Oleh : Fajar Andi Saputra
A. Manusia dalam Pandangan
Antropologi
Pada awalnya di dunia ini hanya
ada satu sel yang kemudian berkembang dan mengalami percabangan-percabangan.
Percabangan ini mengakibatkan adanya variasi mahluk hidup di dunia ini. Menurut
Charles Darwin dalam teori Evolusinya, manusia merupakan hasil evolusi dari
kera yang mengalami perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama.
Dalam perjalanan waktu yang sangat lama tersebut terjadi seleksi alam. Semua
mahluk hidup yang ada saat ini merupakan organisme-organisme yang berhasil
lolos dari seleksi alam dan berhasil mempertahankan dirinya. Dalam teorinya ia
mengatakan : “Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna
menuju kepada kesempurnaan”. Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai
kepada asal-usul manusia.
Dapat disimpulkan bahwa manusia
dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana yang mengalami
perubahan secara bertahap dengan waktu yang sangat lama (evolusi). Berdasarkan
teori ini, manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini berasal dari satu moyang
yang sama. Nenek moyang manusia adalah kera. Teori Evolusi yang dikenalkan oleh
Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai dalam antropologi.
Teori ini mempunyai kelemahan
karena ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang tidak mengalami evolusi dan
tetap dalam keadaan seperti semula. Misalnya sejenis biawak/komodo yang telah
ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada. Jadi dapat
kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena
antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.
B. Manusia dalam Pandangan Agama
Islam
Dalam Agama Islam, segala
sesuatunya telah diatur dengan baik dan digambarkan dalam kitab suci Al-Quran.
Tidak luput olehNya, bagaimana proses pembentukkan manusia yang juga
digambarkan sejelas-jelasnya. Dalam Al-Qur’an jika dipadukan dengan hasil
penelitian ilmiah menemukan titik temu mengenai asal usul manusia ini.
Terwujudnya alam semesta ini
berikut segala isinya diciptakan oleh Allah dalam waktu enam masa. Keenam masa
itu adalah Azoikum, Ercheozoikum, Protovozoikum, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan
Cenozoikum. Dari penelitian para ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan
perkembangan yang bertahap menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran
dan kadarnya masing-masing (tidak berevolusi).
Manusia dikaruniakan oleh Allah
akal untuk berfikir. Dengan akal, manusia mampu membedakan antara yang haq
(benar) dengan yang bathil (salah). Dengan akal pula, manusia mampu merenungkan
dan mengamalkan sesuatu yang benar tersebut. Dengan karunia akal, manusia
diharapkan dapat memilah dan memilih nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan
keindahan.
Disamping
memiliki akal, manusia selalu terlahir dengan 3 naluri yang pasti ada dalam
dirinya, yaitu :
Naluri untuk mensucikan sesuatu : naluri
untuk beragama dan menyebah sesuatu yang lebih dari pada dirinya.
Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri
: manunia punya kecenderungan marah, sedih, senang dll.
Naluri untuk melestarikan dirinya : naluri
kasih sayang.
C. Proses Penciptaan Manusia
C.1 Penciptaan Manusia Menurut
Bibel
Menurut penjelasan di dalam Bibel,
Bibel tidak memuat pernyataan-pernyataan mengenai berbagai fenomena alam yang
pada setiap masa sejarah manusia dapat menjadi subyek pengamatan dan dapat
meningkatkan banyaknya penjelasan atas kemahakuasaan Tuhan, disertai dengan
rincian-rincian spesifik tertentu. Sebagaimana akan kita lihat nanti, teks-teks
semacam itu hanya ada di dalam Al-Qur’an.
Penjelasan-penjelasan Bibel
mengenai asal-usul penciptaan manusia, dijelaskan di dalam Kitab Genesis dalam
ayat-ayat yang membahas penciptaan secara keseluruhan. Salah satu ayat yang ada
di dalam Kitab Genesis berbunyi : “Lalu Tuhan berkata, ‘Biarlah kita membuat
manusia dalam citra kita, sesuai dengan kita; dan jadilah mereka menguasai ikan
di laut, burung di udara, ternak, dan segala suatu di atas bumi serta setiap
makhluk yang melata di atas bumi’.
C.2 Penciptaan Manusia Menurut
Al-Qur’an
Al-Qur’an menyatakan proses
penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda, yaitu: Pertama, disebut
dengan tahapan primordial. Manusia pertama, Adam a.s. diciptakan dari al-tin
(tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain masnun (tanah
lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian
Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut (Q.S, Al An’aam
(6):2, Al Hijr (15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman
(55):4). Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia selanjutnya
adalah melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di
dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air
mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah
itu dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku
tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut
dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun
(23):12-14). Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh
dihembuskan Allah swt. ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari
nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.
Penciptaan manusia dan
aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa di antaranya sebagai
berikut:
Manusia tidak diciptakan dari mani yang
lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa).
Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan
jenis kelamin bayi.
Janin manusia melekat pada rahim sang ibu
bagaikan lintah.
Manusia berkembang di tiga kawasan yang
gelap di dalam rahim.
Setetes Mani
Sebelum proses pembuahan terjadi,
250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel
telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma melakukan
perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran
reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan
sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita, dan juga gaya
gravitasi yang berlawanan. Sel telur hanya akan membolehkan masuk satu sperma
saja.
Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya,
melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus?
Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).
Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim
Setelah
lewat 40 hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang
disebut ‘alaqah.
“Dia
telah menciptakan manusia dengan segumpal darah”. (al ‘Alaq/96:2).
Ketika sperma dari laki-laki
bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel tunggal yang dikenal
sebagai “zigot” , zigot ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri
hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat
dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak
melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim
seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan
semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi
pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an
terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah
menggunakan kata “alaq” dalam Al Qur’an. Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab
adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah
digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap
darah.
Pembungkusan Tulang oleh Otot
Disebutkan dalam ayat-ayat Al
Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya
terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.
“Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)
Para ahli embriologi beranggapan
bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak
lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu
pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan
menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan
Al-Qur’an adalah benar kata demi katanya.
Penelitian di tingkat mikroskopis
ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis
seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan
embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di
sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani
Cairan yang disebut mani tidak
mengandung sperma saja. Ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta yang
ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan
sebagai cairan campuran: “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan
sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia
menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al-Qur’an, 32:7-8).
D. Manusia dari Perspektif
Al-Qur’an dan Al Hadist serta Iptek
Menurut Raghib Al Asfahani
seorang pakar bahasa Al-Qur’an, sebagaimana dikutip Quraish Shihab memandang
kata taqwim pada ayat ini sebagai isyarat tentang keistimewaan manusia
dibandingkan binatang, yaitu akal, pemahaman dan bentuk fisiknya yang tegak lurus.
Jadi, kalimat ahsanu taqwim berarti bentuk fisik dan psikis yang
sebaik-baiknya, yang dapat melaksanakan fungsinya sebaik mungkin. Allah berbuat
demikian karena Allah ingin menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Oleh
karenanya Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, sehingga tidak
ada satu makhlukpun yang lebih tinggi derajatnya dari manusia.
Selayaknya ilmu perakitan
komputer, maka Allah telah merakit manusia dengan sistem hardware dan software,
lengkap, berkualitas tinggi dan multifungsi. Kesemua perangkat ini bekerja
secara sinergis dan dinamis agar manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai
khalifah Allah di bumi.
Manusia diciptakan Allah sebagai
makhluk berpribadi, sebagai makhluk yang hidup bersama-sama dengan orang lain,
sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang
diciptakan dan diasuh oleh Allah. Manusia sebagai makhluk berpribadi, mempunyai
fungsi terhadap diri pribadinya. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai
fungsi terhadap masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah
alam, berfungsi terhadap alam. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan
diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu
manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yaitu : unsur
perasaan, unsur akal, dan unsur jasmani. Al-Qur’an menggambarkan manusia
sebagai makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai
makhluk semi-samawi dan semi duniawi, yang di dalam dirinya ditanamkan
sifat-sifat : mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggungjawab terhadap
dirinya maupun alam semesta, serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit
dan bumi. Manusia dipusakai dengan kecenderungan jiwa ke arah kebaikan maupun
kejahatan. Kemaujudan mereka dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan, yang
kemudian bergerak ke arah kekuatan. Tetapi itu tidak akan menghapuskan
kegelisahan psikis mereka, kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan selalu
mengingat-Nya.
E.
Kesimpulan
Pengertian manusia menurut pandangan
Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi-Nya, yang
diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi akal dan hati,
sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran menurut
sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia
dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 95:4).
Manusia adalah makhluk yang sadar diri.
Ini berarti bahwa ia adalah satu-satunya makhluk hidup yang mempunyai
pengetahuan atas kehadirannya sendiri. Ia mampu mempelajari, manganalisis,
mengetahui dan menilai dirinya.
Terdapat dua pendapat mengenai asal usul
manusia, yaitu bahwa asal usul manusia dari nabi Adam a.s yang merupakan
pendapat para ahli agama sesuai dengan kitab-kitab suci sebagai dasar (termasuk
agama Islam). Pendapat kedua berdasarkan penemuan fosil-fosil oleh para ilmuan
yang berpendapat bahwa asal usul manusia sesuai dengan teori evolusi merupakan
hasil evolusi dari kera-kera besar selama bertahun-tahun dan telah mencapai
bentuk yang paling sempurna. Teori kedua yang dianggap ilmiah itu ternyata
tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.
Proses kejadian manusia berdasarkan
Al-Qur’an dan As Sunnah terjadi dalam dua tahap. Pertama, tahapan primordial, yakni
proses penciptaan nabi Adam a.s sebagai manusia pertama. Kedua, tahapan
biologi, yakni manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani
(nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu
dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku
tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut
dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh.
Allah menciptakan manusia dalam
sebaik-baik bentuk, sehingga tidak ada satu makhlukpun yang lebih tinggi
derajatnya dari manusia. Selayaknya ilmu perakitan komputer, maka Allah telah
merakit manusia dengan sistem hardware dan software, lengkap, berkualitas
tinggi dan multifungsi. Kesemua perangkat ini bekerja secara sinergis dan
dinamis agar manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi.
Tujuan utama penciptaan manusia adalah
agar manusia menyembah dan mengabdi kepada Allah swt. Sedangkan fungsi
penciptaan manusia ke dunia, diklasifikasikan ke dalam tiga (3) pokok, yaitu:
Manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi
Manusia sebagai Warosatul Anbiya’
Manusia sebagai ‘Abd (Pengabdi Allah)
F. Saran
Setelah mengetahui asal usul dan
bagaimana proses manusia itu diciptakan, hendaknya setiap manusia bisa sadar
akan tujuan hidupnya yaitu untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang
memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan,
serta akan memperoleh imbalan surga. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam
surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)
Selama hidup di dunia manusia
wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya
harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai pencipta semua
makhluk.
Semoga dapat menjadi pembelajaran
bagi kita semua sehingga kita menjadi manusia yang senantiasa beriman dan
bertaqwa kepada Allah SWT.
Dengan terselesaikannya makalah
ini semoga bermanfaat bagi semuanya dan pembaca khususnya. Penyusun menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang harus dibenahi.
Untuk itu masukan-masukan dari pihak-pihak yang merespon makalah ini sangat
ditunggu.
DAFTAR PUSTAKA
http://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/19/proses-kejadian-manusia-dan-nilai-nilai-pendidikan-di-dalamnya/
http://nyaknurul.blogspot.com/2011/03/asal-mula-kejadian-manusia.html
http://www.gudangmateri.com/2010/12/proses-penciptaan-manusia-menurut-islam.html
http://alhayaat.wordpress.com/2009/05/28/proses-penciptaan-manusia-menurut-islam-dan-iptek/
http://hanykpoespyta.wordpress.com/2008/04/19/manusia-antara-pandangan-antropologi-dan-agama-islam/
Dr. Bucaille, Maurice. (1984). Asal-Usul Manusia
Menurut Bibel, Al-Qur’an dan Sains. Bandung: Penerbit Mizan.
Syueb, Sudono. Buku Pintar Agama Islam. (2011).
Percetakan Bushido Indonesia: Delta Media
Prof. DR. Daradjat, Zakiah. dkk. (1986). Dasar-dasar
Agama Islam. Jakarta.








sabung ayam online
ReplyDelete