ABSTRAK
Konsumen merupakan individu ataupun
kelompok yang bertujuan memakai, menggunakan barang dan jasa. Konsumen sering
disebut juga dengan Rumah Tangga Konsumsi. Konsumen merupakan rumah tangga yang
melakukan segala kegiatan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan. Konsumen membutuhkan barang serta jasa yang dihasilkan
sehingga dapat memenuhi kebutuhan[1] Seperti dimaklumi, bahwa salah persoalan
penting dalam kajian ekonomi Islam ialah masalah konsumsi. Memperhatikan prioritas konsumsi
antara daruriyyah (primer), hajiyyah (sekunder), tahsiniyyah (pelengkap). Pertama, Daruriyyah (kebutuhan
primer), yakni hal pokok bagi
manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni mamelihara
jiwa, akal, agama ,keturunan dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer kehidupan
manusia tidak akan berlangsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan,
minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan. Kedua,
hajiyyah (kebutuhan sekunder), yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan
kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi
sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berkaitan dengan
lima tujuan syariat itu tadi. Ketiga, Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap),
yaitu kebutuhan yang dapat diciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam
kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan
kebutuhan primer dan sekunder serta, sekali lagi, berkaitan dengan lima tujuan
syariat.[2] Islam
tidak menentukan standard of living
tertentu dengan batas minimum atau maksimum bagi para pemeluknya.
Penerapan ini memang keseluruhan terserah kepada kebijaksanaan dan kesadaran
individu. Yang merupakan prinsip dasar sistem ekonomi islam adalah bahwa setiap
warga negara islam harus mendapatkan paling tidak kebutuhan dasarnya. Jadi,
dalam suatu masyarakat yang di dalamnya tersebar kemiskinan, kesengsaraan dan
kekurangan, tidak diperkenanpun hidup nyaman sekalipun dia kaya sehingga atau
kecuali tercukupi kebutuhan dasarnya. Pada dasaranya, islam tidak
memperbolehkan hidup bermewah mewah, walau ia kaya raya, kesederhanaan hidup
adalah prinsip islam umum yang tidak boleh hilang dari ingatan dalam memilih
suatu gaya hidup.[3]
[1] Alam.
Mandiri Ekonomi. Jakarta, 2013.:
Erlangga
[2] Mustafa Edwin Nasution, M. Sc., MAEP., Ph.D., et al, Pengenalan Eksklusif
Ekonomi Islam (Jakarta:Kencana, 2006), hlm.66
[3] Sistem ekonomi islam, Dr.Muhammad sharif chaudhry,Jakarta, 2012.








sabung ayam live
ReplyDelete