Thursday, May 19, 2016

KONSUMEN DALAM ISLAM


ABSTRAK

Konsumen merupakan individu ataupun kelompok yang bertujuan memakai, menggunakan barang dan jasa. Konsumen sering disebut juga dengan Rumah Tangga Konsumsi. Konsumen merupakan rumah tangga yang melakukan segala kegiatan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan. Konsumen  membutuhkan barang serta jasa yang dihasilkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan[1] Seperti dimaklumi, bahwa salah persoalan penting dalam kajian ekonomi Islam ialah masalah konsumsi.  Memperhatikan prioritas konsumsi antara daruriyyah (primer), hajiyyah (sekunder), tahsiniyyah (pelengkap). Pertama, Daruriyyah (kebutuhan primer), yakni hal pokok bagi  manusia yang dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni mamelihara jiwa, akal, agama ,keturunan dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan. Kedua, hajiyyah (kebutuhan sekunder), yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi. Ketiga, Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap), yaitu kebutuhan yang dapat diciptakan kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta, sekali lagi, berkaitan dengan lima tujuan syariat.[2] Islam tidak menentukan standard of living  tertentu dengan batas minimum atau maksimum bagi para pemeluknya. Penerapan ini memang keseluruhan terserah kepada kebijaksanaan dan kesadaran individu. Yang merupakan prinsip dasar sistem ekonomi islam adalah bahwa setiap warga negara islam harus mendapatkan paling tidak kebutuhan dasarnya. Jadi, dalam suatu masyarakat yang di dalamnya tersebar kemiskinan, kesengsaraan dan kekurangan, tidak diperkenanpun hidup nyaman sekalipun dia kaya sehingga atau kecuali tercukupi kebutuhan dasarnya. Pada dasaranya, islam tidak memperbolehkan hidup bermewah mewah, walau ia kaya raya, kesederhanaan hidup adalah prinsip islam umum yang tidak boleh hilang dari ingatan dalam memilih suatu gaya hidup.[3]







[1] Alam. Mandiri Ekonomi. Jakarta, 2013.: Erlangga
[2] Mustafa Edwin Nasution, M. Sc., MAEP., Ph.D., et al, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam (Jakarta:Kencana, 2006), hlm.66
[3] Sistem ekonomi islam, Dr.Muhammad sharif chaudhry,Jakarta, 2012.
Tugas paper konsumen dalam islam makalah konsumen dalam islam tugas kuliah konsumen dalam islam
Share:

1 comment:

My Blog List

Powered by Blogger.

Labels

Blogger templates

Categories