Pada saat itu semua orang tersentak antara percaya atau tidak, tatkala menerima kabar tentang terbunuhnya Prof. Dr. Safwan Idris. Bagaimana tidak, seorang tokoh masyarakat, ulama, tokoh pendidikan, cendekiawan, birokrat dan masih banyak lagi label yang bisa ditempelkan pada dirinya, tidak pernah ada suatu kesan publik yang negatif terhadapnya, baik yang diberitakan oleh media massa maupun melalui gerakan massa yang dapat membuat keyakinan kita bahwa ia wajar mendapat perlakuan seperti itu. Ketokohannya, keulamaannya, kecendiawannya, karismanya diakui dan dihargai oleh semua pihak kecuali pelaku pembunuhan orang orang dibelakangnya baik di daerah aceh maupun yang di tingkat nasional bahkan di tingkat internasional, bagi PT Arun sosok safwan idris adalah sosok yang paling melekat dengan kegiatannyanya dan memberikan banyak perkembangan keagamaan di lingkungan provita Lhokseumawe.
Sebagai pendakwah yang selalu menyesuaikan diri dengan kondisi mad’u-nya selalu tampil tenang, bersahaja, dan penuh keteladanan sebagai seorang ulama kharismatik. Gaya bahasanya penuh dengan penuh filsafat yang menyentuh dengan nada suara yang tenang, tidak meledak ledak. Ia akrab dengan siapa saja, walaupun jabatannya cukup tinggi yaitu sebagai rektor, sebagai ketua majelis ulama, sebagai dosen, dan banyak lagi jabatan yang disandangnya. Ia sangat terbuka dan ramah. Hal ini juga diungkapkan dari kesan jamaah Arun yang senantiasa mengikuti ceramah ceramahnya
Safwan selalu muncul dengan ide-ide baru. Ia termasuk penggagas dakwah pembangunan yang dilaksanakan oleh perusahaan vital Lhokseumawe. Usahanya dalam menerapkan zakat profesi cukup gigih. Dan hasilnya dapat dirasakan, dimana saat ini masalah zakat jasa (profesi) bukan hal yang asing lagi di Aceh yang dahulunya belum bisa diterima din kalangan ara ulama pesantren bagi perusahaan vital di Lhokseumawe, terutama PT Arun, gerakan zakat Safwan Idris telah membuaka pintu hati dan diberlakukan kepada seluruh karyawan. Gerakan zakat yang digagasnya bukan sekedar upaya pelaksanaan hukum, tetapi lebih jauh dari itu merupakan upaya pemberdayaan ekonomi islam. Salah satu di antara obsesi Safwan adalah perbaikan ekonomi umat lewat wadah yang dinamakan dengan “BAITUL QIRAT” makaadalah wajar jika dikatakan bahwa kepergian beliau merupakan kehilangan besar bagi masyarakat aceh khususnya dan ummat pada umumnya.
jika ingin mencopy jangan lupa cantumkan sumber
Buku : Kearifan Yang terganjal – Safwan idris Ulama Intelektual aceh (5/4/16)












