Pendapatan
Daerah banyak, hasil alam melimpah, bahkan dana otonomi khusus yang jumlahnya
lebih banyak dari pada daerah lain terlihat Aceh ini adalah Daerah yang sangat
makmur. Namun semua itu berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di Aceh
sekarang. Jika dilihat dengan pendekatan dengan teori ekonomi mikro, permintaan
suatu barang di Aceh sangat mendukung pertumbuhan ekonomi, namun hampir semua
uang yang ada di Aceh dibelanjakan ke Medan sehingga perputaran uang pada
masyarakat aceh sangat sedikit dan membuat ekonomi di Aceh stagnan.
Dalam sehari
ada 50 mobil bus, 200 unit L300, 1000 mobil pribadi, dan sekitar 500 Sepeda
motor yang menuju medan, dan diperkirakan ada 3500 orang aceh yang pergi ke
Medan dalam sehari. Jika satu orang hanya membawa Rp. 1.000.000 untuk membelanjakan uangnya ke
medan, dalam sehari uang Aceh ke medan Rp. 3.500.000.000. bayangkan jika dalam
seminggu, sebulan, bahkan setahun, seakan-akan orang Aceh beramai-ramai
bergotong-royong memakmurkan perekonomian Medan sampai pesat seperti sekarang.
Pada kebijakan
pemerintah, Dana Otonomi khusus yang disalurkan pemerintah pusat untuk Aceh
tidak dipergunakan untuk pengembangan ekonomi itu sendiri tapi lebih cenderung
digunakan untuk pembangunan gedung-gedung fasilitas pemerintahan. Tak salah
memang, namun jika dipergunakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pasti
lebih efektif. Misalnya, memberikan fasilitas teknologi yang lebih canggih
untuk petani padi, yang biasanya bisa panen setahun dua kali nantinya bisa
panen setahun empat kali. Bukan tidak
mungkin terjadi, teknologi pertanian maju sudah dibuktikan oleh negara thailand.
Permasalahan
ini memang tidak mudah untuk diselesaikan namun ada beberapa solusi yang
harusnya dapat dilakukan oleh pemerintah bahkan masyarakat Aceh sendiri.
Pemerintah bisa membangun pabrik-pabrik yang dapat mengolah bahan mentah
seperti pabrik karet, kopi, sawit, dan bahan mentah lainnya sehingga bahan
mentah dari masyarakat tidak di kirim ke medan. Dampak dari pembangunan
pabrik-pabrik itu akan mengubah ekonomi aceh secara drastis karena jika pabrik
suatu produk sudah ada di aceh, harganyapun akan lebih murah sehinngga
masyarakat tidak lagi membelanjakan uangnya ke Medan.
ini juga banyak terjadi di berbagai daerah di indonesia, banyak perputaran uang menumpuk di salah satu kota saja karena kota tersebut berperan sebagai kota industri, namun tentunya ini tidak baik untuk perekonomian di negara ini.
Zulfan Murdani








sabung ayam online
ReplyDelete